Rabu, 30 Desember 2009 2009, PLN Jaga Arus Kas Lancar
Suasana pembangkitan listrik Jawa-Bali unit Pembangkitan Muara Karang, Jakarta Utara, Senin (12/1). Sehubungan dengan turunnya harga bahan bakar minyak rencananya pemerintah akan menurunkan tarif dasar listrik (TDL).
[JAKARTA] PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat ini sedang berusaha menjaga arus kas perusahaan lancar dan memperoleh keuntungan yang besar. Harga jual listrik yang lebih rendah daripada biaya pokok produksi menyebabkan PLN harus menderita kerugian dan separuh pendapatan PLN berasal dari subsidi pemerintah.
"Yang terpenting arus kas PLN dikuatkan dahulu. Apabila proyek 10.000 megawatt (MW) masuk, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akan turun. Itu menekan biaya pokok produksi," kata Direktur Keuangan PLN, Setio Anggoro di Jakarta, pekan lalu.
Subsidi 2009 diperkirakan turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 10 triliun menjadi Rp 45 triliun. Dengan asumsi kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri energi batu bara sebesar 30%. "Apabila DMO tidak diperoleh maka pemerintah harus nombok lagi Rp 5 triliun," katanya.
Sebagai perusahaan, PLN ingin mendapatkan keuntungan, di sisi lain harga jual bukanlah keputusan PLN melainkan diatur oleh pemerintah. Besaran subsidi sangat dipengaruhi oleh biaya pokok produksi (BPP) yang sebagian besar dipengaruhi oleh harga energi.
Oleh karena itu, PLN melakukan efisiensi dengan menekan biaya pokok produksi dengan melakukan diversifikasi energi. BPP cenderung turun dengan semakin kecilnya porsi produksi listrik dari pembangkit BBM dan meningkatkannya produksi listrik dari pembangkit non BBM.
Hasil simulasi energi yang dilakukan PLN menunjukan bahwa terjadi pengurangan porsi produksi dari BBM yang terus menurun dari 23,26% di tahun 2009 menjadi 3,86% pada tahun 2011.
Sedangkan, porsi produksi dari batu bara dan gas alam meningkat disebabkan proyek 10.000 MW selesai dan adanya tambahan pasokan gas alam untuk pembangkit PLN.
Perhitungan BPP PLN juga ditentukan oleh margin PLN, asumsi makro ekonomi, asumsi teknis dan asumsi korporat. Pada 2009, PLN mendapatkan margin dari pemerintah sebesar 1%, dengan asumsi harga minyak US$ 80 per barel dengan inflasi dan pertumbuhan listrik sebesar 7%.
Pada tahun 2010, subsidi listrik diperkirakan mencapai Rp 40 triliun. Akan tetapi pada tahun 2011, akan terdapat kenaikan subsidi sebesar Rp 9 triliun menjadi Rp 49 triliun.
Kenaikan BPP pada 2011 disebabkan asumsi kenaikan margin 5% dari 3% pada 2010, serta meningkatnya komponen beban pembelian listrik. [DLS/M-6]
Sumber : Suara Pembaruan
|
|